(
والصادق الصديق أستاذ الألى وإمام
أهل الحق غير مدافع )
Beliau
adalah Imam Ja’far bin Muhammad bin Ali bin Husein bin Ali bin Abi Tholib karramallahu
wajhah, dan beliau lebih dikenal dengan laqob[1]
“Asshodiq” serta kunyah Abu Abdillah, sebagian mengatakan kunyah
beliau adalah Abu Ismail. Ibu beliau adalah sayyidatuna Farwah binti
Qosim bin Muhammad bin Abu Bakar Asshiddiq, sedangkan ibu dari ibu beliau
adalah Sayyidatuna Asma’ binti Abdurrahman bin Abu Bakar Asshiddiq.
Karena hal tersebut beliau radhiyallahu’anhu pernah mengatakan: “
jangan pernah kau caci Abu Bakar, karena dia telah melahirkanku dua kali “.
Beliau
dilahirkan di kota Madinah pada hari senin 18 Robi’ul Awwal tahun 80[2]
Hijriyah, dan meninggal di kota Madinah pada malam senin pertengahan Rojab
tahun 148 Hijriyah berada di pemakaman Baqi’ di kubah Al’Abbas,
disamping makam ayah, kakek serta paman beliau sayyidana Hasan bin Ali
bin Abi Tholib radhiyallahu’anhum.
Beliau
memiliki lima putra: Sayyidina Muhammad, Ismail, Abdullah, Musa dan Ali
‘Uraidhi kakek dari pada keluarga Al-Ba’alawiy.
( أستاذ الألى
) bait
syair menyebut beliau guru yang mulia karena banyaknya
para imam serta ulama tersohor yang mengambil ilmu dari Imam Ja’far Asshodiq,
seperti: Imam Yahya bin Sa’id, Ibnu Juraij, Malik bin Anas[3],
Sufyan Atsauri, Ibnu ‘uyainah, Abi Hanifah[4],
Syu’bah dan Ayyub. Serta banyak pula yang menukil dari beliau ilmu-ilmu, ilmu
ma’arif, hikmah-hikmah, sejarah, petunjuk dan jalan hidayah orang-orang sholeh
yang terus tersebar ilmu beliau kebanyak penjuru negara.
Sampai-sampai Sayyidina
Umar bin Miqdam mengatakan: “ Ketika aku melihat Ja’far bin Muhammad,
aku tahu kalau dia keturunan Rasulullah SAW. “.
Beberapa kutipan dari Kalam beliau Radhiyallahu’anhu:
لازاد أفضل من التقوى ولاشيئ أحسن من
الصمت ولاعدوى أضر من الجهل ولاداء أدوى من الكذب
“ Tidak ada bekal yang
lebih baik dari takwa, tidak ada sesuatu yang lebih baik dari diam, tidak musuh
yang lebih bahaya dari kebodohan dan tidak ada penyakit yang lebih bahaya dari
kebohongan “.
Beliau juga mengatakan:
“ Jika kamu mendengar perkataan seorang muslim, artikan dengan penafsiran
terbaikmu, jika kamu tidak bisa mengartikannya dengan baik, maka salahkan
dirimu “.
Artinya, jangan
berburuk sangka (Suudzon) ketika mendengar perkataan seseorang bisa jadi
maksudnya benar, hanya saja dia salah mengucapkannya, jadi kita harus
mengartikan dengan penafsiran yang baik.
Beliau mengatakan: “ Jika
kau berbuat dosa lekaslah meminta ampunan (istighfar), karena dosa tersebut
terikat pada leher seseorang dari sebelum dilahirkan “.
Artinya, setiap insan
pasti pernah berbuat salah, karena hal tersebut juga bagian dari ketentuan
Allah SWT. Namun kita tetap harus meminta ampunan dan menyesalinya, karena
itulah manusia dikarunia akal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar