Senin, 10 April 2017

Biografi Imam Ja'far Ash-Shodiq

( والصادق الصديق أستاذ الألى        وإمام أهل الحق غير مدافع )
Beliau adalah Imam Ja’far bin Muhammad bin Ali bin Husein bin Ali bin Abi Tholib karramallahu wajhah, dan beliau lebih dikenal dengan laqob[1]Asshodiq” serta kunyah Abu Abdillah, sebagian mengatakan kunyah beliau adalah Abu Ismail. Ibu beliau adalah sayyidatuna Farwah binti Qosim bin Muhammad bin Abu Bakar Asshiddiq, sedangkan ibu dari ibu beliau adalah Sayyidatuna Asma’ binti Abdurrahman bin Abu Bakar Asshiddiq. Karena hal tersebut beliau radhiyallahu’anhu pernah mengatakan: “ jangan pernah kau caci Abu Bakar, karena dia telah melahirkanku dua kali “.
Beliau dilahirkan di kota Madinah pada hari senin 18 Robi’ul Awwal tahun 80[2] Hijriyah, dan meninggal di kota Madinah pada malam senin pertengahan Rojab tahun 148 Hijriyah berada di pemakaman Baqi’ di kubah Al’Abbas, disamping makam ayah, kakek serta paman beliau sayyidana Hasan bin Ali bin Abi Tholib radhiyallahu’anhum.
Beliau memiliki lima putra: Sayyidina Muhammad, Ismail, Abdullah, Musa dan Ali ‘Uraidhi kakek dari pada keluarga Al-Ba’alawiy.
( أستاذ الألى ) bait syair menyebut beliau guru yang mulia karena banyaknya para imam serta ulama tersohor yang mengambil ilmu dari Imam Ja’far Asshodiq, seperti: Imam Yahya bin Sa’id, Ibnu Juraij, Malik bin Anas[3], Sufyan Atsauri, Ibnu ‘uyainah, Abi Hanifah[4], Syu’bah dan Ayyub. Serta banyak pula yang menukil dari beliau ilmu-ilmu, ilmu ma’arif, hikmah-hikmah, sejarah, petunjuk dan jalan hidayah orang-orang sholeh yang terus tersebar ilmu beliau kebanyak penjuru negara.
Sampai-sampai Sayyidina Umar bin Miqdam mengatakan: “ Ketika aku melihat Ja’far bin Muhammad, aku tahu kalau dia keturunan Rasulullah SAW. “.
            Beberapa kutipan dari Kalam beliau Radhiyallahu’anhu: لازاد أفضل من التقوى ولاشيئ أحسن من الصمت ولاعدوى أضر من الجهل ولاداء أدوى من الكذب
“ Tidak ada bekal yang lebih baik dari takwa, tidak ada sesuatu yang lebih baik dari diam, tidak musuh yang lebih bahaya dari kebodohan dan tidak ada penyakit yang lebih bahaya dari kebohongan “.
Beliau juga mengatakan: “ Jika kamu mendengar perkataan seorang muslim, artikan dengan penafsiran terbaikmu, jika kamu tidak bisa mengartikannya dengan baik, maka salahkan dirimu “.
Artinya, jangan berburuk sangka (Suudzon) ketika mendengar perkataan seseorang bisa jadi maksudnya benar, hanya saja dia salah mengucapkannya, jadi kita harus mengartikan dengan penafsiran yang baik.
Beliau mengatakan: “ Jika kau berbuat dosa lekaslah meminta ampunan (istighfar), karena dosa tersebut terikat pada leher seseorang dari sebelum dilahirkan “.
Artinya, setiap insan pasti pernah berbuat salah, karena hal tersebut juga bagian dari ketentuan Allah SWT. Namun kita tetap harus meminta ampunan dan menyesalinya, karena itulah manusia dikarunia akal.



[1] Laqob dan Kunyah bisa diartikan Julukan.
[2] Sebagian ulama’ mengatakan beliau lahir pada tahun 83 hijriyah.
[3] Imam Malik (pendiri Madzhab Malikiyah).
[4] Pendiri Madzhab Hanafiyah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar