Selasa, 15 Maret 2016

Sohibur Ratib Haddad

Habib Umar bin Zain bin Smith pernah menjelaskan: “Para Ulama atau Wali ada yang rahasia keberkahannya (sirrun) terletak pada kitabnya, seperti Al-Imam Nawawi yang berada pada kitab beliau AL-MINHAAJ dan SYARAH MUSLIM  pada saat itu beliau belum menikah padahal usianya 44 tahun, Habib Abdullah Al-Haddad mengatakan: “seandainya imam nawawi berusia sama seperti imam ghazali, maka beliau dapat menyebarkan ilmu-ilmu sama seperti yang telah disebarkan imam ghazali”.
Dan yang kedua ada yang rahasia keberkahan mereka terdapat pada murid-muridnya seperti Imam Abu Hasan As-Syadziliy, diantara murid beliau adalah Abu Abbas Al-Musriy.
Dan ada juga yang rahasia keberkahannya terdapat pada putra-putranya, seperti Syech Abu Bakar bin Salim.
Dan ada yang rahasia keberkahannya terdapat pada kitab, murid dan anaknya, seperti Al-Habib Abdullah Al-Haddad.
(كلام الحبيب علوي بن شهاب – 1/323)

Suatu malam ketika Habib Abdullah Al-Haddad masuk masjid Ba’alawi, tiba-tiba beliau tercengang dan gemetaran, lalu Habib Abdullah bin Abu Bakar Al-Idrus menggenggam tangan beliau dan mengatakan: “ Masuklah… ini kakek mu Muhammad SAW, ini kakek mu Faqih Muqaddam, ini kakek mu Abdurrahman Assegaf dan yang ini fulan dan fulan, kemudian Nabi SAW memberkahi beliau dan mendoakannya.
(كلام الحبيب علوي بن شهاب – 1/378)

Ketika ada seseorang yang menyakan apa Madzhab beliau, Habib Abdullah Al-Haddad menjawab: “sebenarnya aku ingin menjawab madzhabku adalah Al-Qur’an dan Hadits, tapi khawatir akan keingkaran (yang menyebabkan selisisih, bingun dan masalah), lalu aku menjawab: Madzhabku adalah madzhab Imam Muhammad bin Idris As-Syafi’i rahimahullah, kemudian setelah itu tiba-tiba ada seseorang yang datang padaku dan mengatakan: “kenapa kamu tidak mengatakan apa yang kau inginkan? Katakanlah: Madzhabku adalah Kitab dan Sunnah!
Aku mendapat kabar bahwa ternyata orang tersebut adalah Nabi Khidir ‘alaihissalam. (kitab ghayatul qashdi wal muraad – 1/61).
Sebagian dari para pemimpin ulama mengatakan: “Seandainya masih ada Nabi setelah Rasulullah SAW pasti Al-Habib Abdullah Al-Haddadlah orangnya, karena begitu hebat dan luar biasa dakwah beliau.

(كلام الحبيب علوي بن شهاب – 2/324)

Minggu, 13 Maret 2016

Biografi Habib Abdullah Al-Haddad

Al-Imam Al-’Allamah Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad, di lahirkan di Syubair di salah satu ujung Kota Tarim di Provinsi Hadhramaut Yaman pada tanggal 5 Safar tahun 1044 H. Beliau di besarkan di Kota Tarim dan di saat beliau berumur 4 tahun, beliau terkena penyakit cacar yang cukup parah sehingga menyebabkan kedua mata beliau tidak dapat melihat.[1]

Meskipun kedua mata beliau tidak dapat melihat sejak usia dini, beliau tetap tidak memutuskan semangat keinginan untuk menuntut ilmu-ilmu agama dan mengisi masa kecilnya dengan berbagai macam ibadah dan bertaqarrub kepada Allah SWT, sehingga mulai dari sejak usia dini, hidupnya sangat berkah dan berguna.
Di masa kecilnya Al-Habib Abdullah mengerjakan shalat sunnah seratus rakaat setiap harinya setelah pulang dari rumah gurunya di waktu Dhuha. Karena itu tidaklah mengherankan jika Allah SWT memberinya kedudukan sebagai ‘Wali Al-Quthub’ sejak usianya masih remaja.

Ayah beliau Al-Habib Alawi bin Muhammad Al-Haddad berkata: “Sebelum menikah, aku pernah berkunjung kerumah Al-’Arif Billah Al-Habib Ahmad bin Muhammad Al-Habsyi di Kota Syi’ib untuk meminta do’a, lalu Al-Habib Ahmad menjawabku: “اولادك اولادنا فيه بركة
Putra-putramu juga putra-putra kami, pada mereka terdapat berkah
Al-Habib Alawi Al-Haddad berkata: “Aku tidak mengerti arti ucapan Al-Habib Ahmad, sampai setelah lahirnya putraku Abdullah,  aku melihat berbagai tanda-tanda kewalian dan kejeniusannya”

Semenjak kecil Al-Habib Abdullah Al-Haddad telah termotivasi untuk menimba ilmu dan gemar beribadah, beliau berkata: “Jika aku kembali dari tempat belajarku pada waktu Dhuha, maka aku mendatangi sejumlah masjid untuk melakukan shalat sunnah seratus rakaat setiap harinya.”
Kemudian untuk mengetahui betapa besar kemauan beliau untuk beribadah di masa kecilnya Al-Habib Abdullah menuturkan: “Di masa kecilku, aku sangat gemar dan bersungguh-sungguh dalam ibadah dan mujahadah, sampai nenekku seorang wanita shalihah yang bernama Asy-Syarifah Salma binti Al-Habib Umar bin Ahmad Al-Manfar Ba’alawi berkata: ‘Wahai anak kasihanilah dirimu’ Ia mengucapkan kalimat itu karena merasa kasihan kepadaku ketika melihat kesungguhanku dalam ibadah dan bermujahadah.”
Seorang sahabat dekat Al-Habib Abdullah al-Haddad berkata: “Ketika aku berkunjung kerumah Al-Habib Abdullah bin Ahmad Bilfagih, maka ia bercerita kepada kami: “Sesungguhnya kami dan Al-Habib Abdullah al-Haddad tumbuh bersama, namun Allah SWT memberinya kelebihan lebih dari kami, kami lihat hidup Al-Habib Abdullah sejak masa kecilnya telah mempunyai kelebihan tersendiri, ketika ia membaca Surat Yasiin, ia sangat terpengaruh dan menangis, sehingga ia tidak dapat menyelesaikan bacaan surat yang mulia itu, kami dapat memahami bahwa Al-Habib Abdullah telah diberi kelebihan tersendiri sejak kecilnya”
Al-Habib Abdullah sering berziarah kubur pada Hari Jum’at sore setelah melakukan shalat ashar di masjid Al-Hujairah. Selain itu, Al-Habib Abdullah al-Haddad sering berziarah kubur pada Hari Selasa sore, setelah usianya semakin lanjut dan fisik beliau semakin menurun, Al-Habib Abdullah tidak berziarah pada Hari Jum’at dan Selasa seperti biasanya, adakalanya beliau berziarah pada Hari Sabtu dan hari-hari lainnya sebelum matahari naik.
Di antara wirid Al-Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad setiap harinya adalah kalimat “لا إله إلاّ الله” sebanyak seribu kali, dan jika datang Bulan Ramadhan beliau membacanya sebanyak dua ribu kali setiap harinya, beliau menyempurnakannya sebanyak tujuh puluh ribu kali pada waktu enam hari di Bulan Syawal. Selain itu beliau juga membaca “LAA ILAAHA ILLALLAH AL-MALIKUL HAQQUL MUBIIN” sebanyak seratus kali setelah Shalat Dzuhur.
Al-Habib Abdullah berkata: “Kami biasa melakukan shalatul Awwabin (Shalat Sunnah Muthlaq) sebanyak dua puluh rakaat.”
Al-Habib Abdullah sering berpuasa Sunnah khususnya pada hari-hari yang dianjurkan, seperti Hari Senin dan Hari Kamis, Ayyamul biidh, Hari Asyura, Hari Arafah, enam hari di Bulan Syawal dan lain sebagainya, sampai di masa senja beliau selalu menyembunyikan berbagai macam ibadah dan mujahadahnya, beliau tidak ingin memperlihatkannya kepada orang lain kecuali untuk memberikan contoh kepada orang lain.
Selain di kenal sebagai ahli ibadah dan mujahadah, Al-Habib Abdullah juga dikenal seorang yang istiqomah dalam ibadah dan mujahadahnya seperti yang dilakukan Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Al-Habib Ahmad An-Naqli berkata: “Al-Habib Abdullah adalah seorang yang sangat istiqamah dalam mengikuti semua jejak kakeknya Rasulullah SAW”
Dalam hal ini Al-Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad berkata: “Kami telah mengamalkan semua jejak Nabi Muhammad SAW dan kami tidak meninggalkan sedikitpun daripadanya kecuali hanya memanjangkan rambut sampai di bawah ujung telinga, karena Nabi SAW memanjangkan rambutnya sampai di bawah ujung kedua telinganya.”
Al-Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad adalah orang yang penyabar, sejak masa kecil beliau sudah mengalami berbagai cobaan, diantaranya adalah ketika ia menderita penyakit cacar sampai kedua matanya tidak dapat melihat, meskipun begitu beliau rajin mencari ilmu dan beribadah di masa kecilnya, hingga melakukan shalat sunnah seratus rakaat setiap paginya hingga Waktu Dzuhur tiba, ada sebuah riwayat yang mengatakan kalau beliau selalu menyembunyikan berbagai cobaan yang dideritanya sampai di akhir usianya, beliau berkata kepada seorang kawan dekatnya: “Sesungguhnya penyakit demam di tubuhku sudah ada sejak lima belas tahun yang lalu dan hingga kini masih belum meninggalkan aku, meskipun demikian tidak seorangpun yang mengetahui penyakitku ini, sekalipun keluargaku sendiri
Al-Habib Abdullah pernah mengatakan suatu pernyataan tentang Thariqah Al-Ba’alaw:
“Tarekat kami adalah mengikuti tuntunan Al-Qur’an dan As-Sunnah dan mengikuti jejak para Salafunas Shalihin dalam segala bidang”
Al-Habib Abdullah juga menjelaskan:
“Kami tidak mengikuti tuntunan kecuali tuntunan Allah SWT dan tuntunan Rasul-Nya serta jejak Al-Faqih Muqaddam, dan thariqah orang-orang yang menuju kepada Allah SWT dan kami tidak membutuhkan selain thariqah ini, para pendahulu kami Al-Ba’alawi telah menetapkan sejumlah petunjuk bagi kami, karena itu kami tidak akan mengikuti petunjuk lain yang bertentangan dengan petunjuk mereka”
Diriwayatkan bahwa beliau mendapat kedudukan Wali Quthub lebih dari 60 tahun, beliau menerima kedudukan kewalian dari Al-’Arif Billah Al-Habib Muhammad bin Alawi (Shahib Makkah), beliau menerima kedudukan tersebut tepat ketika Al-Habib Muhammad bin Alawi wafat di kota Makkah pada tahun 1070 H. Pada saat itu Al-Habib Abdullah berusia 26 tahun, kedudukan Wali Quthub itu beliau sandang hingga beliau wafat (1132 H), jadi beliau menjadi Wali Quthub lebih dari 60 Tahun.
Beliau menuntut ilmu pada ulama-ulama di zamannya, diantaranya guru-guru beliau adalah: Sayyiduna Al-Quthub Al-Habib Umar bin Abdurrahman Al-Attas, Al-Habib Al-’Allamah Agil bin Abdurrahman As-Segaf, Al-Habib Al-’Allamah Abdurrahman bin Syeikh Aidid, Al-Habib Al-’Allamah Sahl bin Ahmad Bahsin Al-Hudayli Ba’alawi, dan termasuk guru-guru beliau juga adalah Al-Imam Al-’Allamah guru besar kota Makkah Al-Mukarromah, Al-Habib Muhammad bin Alwi As-Segaf, dan masih banyak lagi guru-guru beliau yang lainnya.
Beliau memiliki banyak murid, diantara murid-murid beliau adalah: Al-Habib Hasan bin Abdullah Al-Haddad (putra beliau sendiri), Al-Habib Ahmad bin Zain Al-Habsyi, Al-Habib Abdurrahman bin Abdullah Bilfaqih, Al-Habib Umar bin Zain bin Smith, Al-Habib Muhammad bin Zain bin Smith, Al-Habib Umar bin Abdurrahman Al-Bar, Al-Habib Ali bin Abdullah bin Abdurrahman As-Segaf, Al-Habib Muhammad bin Umar bin Thoha Ash-Shafi As-Segaf, dan masih banyak lagi murid-murid beliau.
Di antara karya-karya tulis Al-Habib Abdullah adalah: Risalah Adab Sulukul Murid, Risalatul Mu’awanah, An-Nafaaisul’Ulwiyah Fiil Masailis Sufiyah, Sabiilul Iddikar, Al-Ithaafus Saail, At-Tatsbiitul Fuaad, Ad-Da’wah Taamah, Nasaihud Diiniyah, dan masih banyak lagi lainnya.
Dan wirid-wirid yang beliau susun diantaranya yang sangat terkenal adalah “Ratibul Haddad” yang beliau susun di malam Lailatul Qadr tahun 1071 H.
Beliau wafat hari Senin Malam Selasa tanggal 7 Dzulqa’dah 1132 H, dan di makamkan di pemakaman Zambal di kota Tarim Hadhramaut Yaman.
Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’alaa merahmati beliau dengan rahmat yang teramat luasnya dan meridhoinya serta memberi kita manfaat dan barokah beliau serta ilmu-ilmu beliau di dunia dan akhirat.
Karomah Al-Imam Al-‘Allamah Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad
Karomah Al-Habib Abdullah Bin Alawi Al-Haddad (Shohibur Ratib) adalah suatu keistimewaan yang diberikan kepada seorang Wali Allah SWT sebagai karunia khusus baginya, sebagaimana mukjizat yang diberikan kepada seorang Nabi atau Rasul sebagai bukti kenabian dan kerasulannya, kalau seorang Nabi atau Rasul diperintah memperkenalkan diri dan tugasnya kepada umatnya, maka ia dibolehkan memperlihatkan mukjizatnya, seperti ketika Nabi Allah Musa as di perintah melempar tongkatnya di depan Fir’aun, sehingga tongkatnya berubah menjadi seekor ular.
Berbeda dengan seorang wali dan karamahnya, ia tidak diperintah memperkenalkan diri dan menampakkan karamahnya kepada orang lain, karena ia tidak diperintah untuk menyebarkan risalah agama, hanya saja seorang wali dianjurkan mengajak orang lain ke jalan Allah SWT kalau di tengah dakwahnya ia membutuhkan suatu bukti maka ia boleh memperlihatkan karamahnya.
Adapun karomah yang diberikan kepada Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad cukup banyak sehingga kalau diungkapkan satu persatu maka akan membutuhkan waktu yang panjang, kami hanya akan menceritakan sebagian kecil saja dari karomah beliau:
Seorang sahabat dekat Al-Habib Abdullah berkata: “Pada suatu kali aku terlilit hutang yang banyak dan aku tidak dapat melunasinya karena aku tidak mempunyai uang, ketika aku menyampaikan keluhanku kepada Al-Habib Abdullah al-Haddad beliau berkata: “Semoga esok pagi semua hutangmu dapat terlunasi” Ternyata keesokan paginya ada seorang lelaki memberiku sepuluh potong pakaian, setelah aku menerimanya kemudian aku menjualnya, yang hasilnya memiliki keuntungan yang lebih besar dari jumlah hutangku, semua itu adalah berkah karomah Al-Habib Abdullah al-Haddad”
Salah satu sahabat Al-Habib Abdullah al-Haddad berkata: “Salah seorang yang sangat cinta kepada Al-Habib Abdullah al-Haddad berkata “Aku pernah dirampok sampai semua hartaku habis, lalu aku mendatangi Al-Habib Abdullah untuk meminta tolong dan minta do’a, ketika aku akan pamit, beliau berkata kepadaku “semoga engkau mendapat ganti yang lebih bagus daripada hartamu yang dirampok, dan bacalah setiap pagi “يا رزّاق” sebanyak tiga ratus delapan puluh kali dan baca juga do’a ini sebanyak empat kali:
"اللهم اغنني بحلالك عن حرامك و بطعاتك عن معصيتك و بفضلك عمن سواك"
Dengan izin Allah SWT setelah lelaki itu kembali hartanya kembali dan lebih bahkan hutang-hutang yang pernah dia miliki dapat dilunasinya, hidupnya menjadi lebih baik sampai beliau wafat di kota Syibam pada tahun empat puluh.
Salah seorang sahabat dekat Al-Habib Abdullah Al-Haddad berkata:
“Aku diberitahu oleh salah seorang murid yang selalu mengikuti Al-Habib Abdullah Al-Haddad: “Pada suatu hari aku keluar untuk mengunjungi seorang syeikh yang dikenal oleh penduduk Kota Tarim dengan nama Syeikh Maula Ar-Rakah, dan aku kesana tanpa memberitahu kepada Al-Habib Abdullah lebih dahulu, sehingga aku kesana dalam keadaan demam yang sangat parah, kku berkata dalam diriku sendiri: “Mungkin penyakitku ini disebabkan aku tidak izin kepada Al-Habib Abdullah terlebih dahulu.”
Ketika aku mendatangi Al-Habib Abdullah dan mengeluh kepadanya, maka Al-Habib Abdullah mengusap badanku dengan tangannya yang mulia, dengan izin Allah dan berkah Al-Habib Abdullah penyakitku segera sembuh dan tidak meninggalkan bekas apapun pada tubuhku”

Sumber:
-Mengenal Lebih Dekat Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad
-Menyingkap Rahasia Dzikir & Doa Dalam Ratib Al-Haddad



[1] Beliau hanya tinggal berdua bersama ibu, dan ibu memiliki tekad dan semangat yang sangat kuat untuk menjadikan seorang ulama’, suatu saat beliau terkena penyakit cacar yang cukup parah dan dilarang terkena air, beliau memiliki seorang paman (adik ibunya) yang terkenal Majzdub yang menjadikan ibunya khawatir dan selalu mengunci pintu rumah, namun suatu ketika ibunda beliau lupa mengunci pintu sembari pergi kepasar, dan seperti yang ditakutkan paman beliau masuk dan ketika melihat alhabib Abdullah yang sedang sakit beliau malah memandikannya, bertambah parahlah penyakitnya dan sampai mengenai saraf mata yang menyebabkan beliau tidak bias lagi melihat dari saat usia kecil.
Hal tersebut membuat sedih ibunda beliau dan sempat membuat beliau bingung, akan tetapi dengan kepercayaan kepada Allah SWT ibunda beliau terus berdoa dan meminta kepada Allah agar menjadikan putranya seorang yang berilmu dan di ridhai, ibundanya mulai mengajarkan sendiri ilmu-ilmu dasar agama dan terus dengan doa dan tekad kepada Allah, akhirnya Al-Habib Abdullah Al-Haddan bias menjadi orang yang kita ketahui.