Senin, 10 April 2017

Habib Neon

Al-Habib Muhammad bin Husein Alaydrus (Habib Neon)
Ulama yang Berjuluk Habib Neon
Dia salah seorang ulama yang menjadi penerang umat di zamannya. Cahaya keilmuan dan ahlaqnya menjadi teladan bagi mereka yang mengikuti jejak ulama salaf
Suatu malam, beberapa tahun lalu, ketika ribuan jamaah tengah mengikuti taklim di sebuah masjid di Surabaya, tiba-tiba listrik padam. Tentu saja kontan mereka risau, heboh. Mereka satu persatu keluar, apalagi malam itu bulan tengah purnama. Ketika itulah dari kejauhan tampak seseorang berjalan menuju masjid. Ia mengenakan gamis dan sorban putih, berselempang kain rida warna hijau. Dia adalah Habib Muhammad bin Husein bin Zainal Abidin bin Ahmad Alaydrus yang ketika lahir ia diberi nama Muhammad Masyhur.
Begitu masuk ke dalam masjid, aneh bin ajaib, mendadak masjid terang benderang seolah ada lampu neon yang menyala. Padahal, Habib Muhammad tidak membawa obor atau lampu. Para jamaah terheran-heran. Apa yang terjadi? Setelah diperhatikan, ternyata cahaya terang benderang itu keluar dari tubuh sang habib. Bukan main! Maka, sejak itu sang habib mendapat julukan Habib Neon …
Habib Muhammad lahir di Tarim, Hadramaut, pada 1888 M. Meski dia adalah seorang waliyullah, karamahnya tidak begitu nampak di kalangan orang awam. Hanya para ulama atau wali yang arif sajalah yang dapat mengetahui karamah Habib Neon. Sejak kecil ia mendapat pendidikan agama dari ayahandanya, Habib Husein bin Zainal Abidin Alaydrus. Menjelang dewasa ia merantau ke Singapura selama beberapa bulan kemudian hijrah ke ke Palembang, Sumatra Selatan, berguru kepada pamannya, Habib Musthafa Alaydrus, kemudian menikah dengan sepupunya, Aisyah binti Musthafa Alaydrus. Dari pernikahan itu ia dikaruniai Allah tiga anak lelaki dan seorang anak perempuan.
Tak lama kemudian ia hijrah bersama keluarganya ke Pekalongan, Jawa Tengah, mendampingi dakwah Habib Ahmad bin Tholib Al-Atthas. Beberapa waktu kemudian ia hijrah lagi, kali ini ke Surabaya. Ketika itu Surabaya terkenal sebagai tempat berkumpulnya para ulama dan awliya, seperti Habib Muhammad bin Ahmad al-Muhdhor, Habib Muhammad bin Idrus al-Habsyi, Habib Abu Bakar bin Umar bin Yahya.
Selama mukim di Surabaya, Habib Muhammad suka berziarah, antara lain ke makam para wali dan ulama di Kudus, Jawa Tengah, dan Tuban, Jawa Timur. Dalam ziarah itulah, ia konon pernah bertemu secara ruhaniah dengan seorang wali kharismatik, (Alm) Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf, Gresik.
Open House
Seperti halnya para wali yang lain, Habib Muhammad juga kuat dalam beribadah. Setiap waktu ia selalu gunakan untuk berdzikir dan bershalawat. Dan yang paling mengagumkan, ia tak pernah menolak untuk menghadiri undangan dari kaum fakir miskin. Segala hal yang ia bicarakan dan pikirkan selalu mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kebenaran agama, dan tak pernah berbicara mengenai masalah yang tak berguna.
Ia juga sangat memperhatikan persoalan yang dihadapi oleh orang lain. Itu sebabnya, setiap jam 10 pagi hingga waktu Dhuhur, ia selalu menggelar open house untuk menmui dan menjamu para tamu dari segala penjuru, bahkan dari mancanegara. Beberapa tamunya mengaku, berbincang-bincang dengan dia sangat menyenangkan dan nyaman karena wajahnya senantiasa ceria dan jernih.
Sedangkan waktu antara Maghrib sampai Isya ia perguankan untuk menelaah kitab-kitab mengenai amal ibadah dan akhlaq kaum salaf. Dan setiap Jumat ia mengelar pembacaan Burdah bersama jamaahnya.
Ia memang sering diminta nasihat oleh warga di sekitar rumahnya, terutama dalam masalah kehidupan sehari-hari, masalah rumahtangga, dan problem-problem masyarakat lainnya. Itu semua dia terima dengan senang hati dan tangan terbuka. Dan konon, ia sudah tahu apa yang akan dikemukakan, sehingga si tamu manggut-manggut, antara heran dan puas. Apalagi jika kemudian mendapat jalan keluarnya. “Itu pula yang saya ketahui secara langsung. Beliau adalah guru saya,” tutur Habib Mustafa bin Abdullah Alaydrus, kemenakan dan menantunya, yang juga pimpinan Majelis Taklim Syamsi Syumus, Tebet Timur Dalam Raya, Jakarta Selatan.
Di antara laku mujahadah (tirakat) yang dilakukannya ialah berpuasa selama tujuh tahun, dan hanya berbuka dan bersantap sahur dengan tujuh butir korma. Bahkan pernah selama setahun ia berpuasa, dan hanya berbuka dan sahur dengan gandum yang sangat sedikit. Untuk jatah buka puasa dan sahur selama setahun itu ia hanya menyediakan gandum sebanyak lima mud saja. Dan itulah pula yang dilakukan oleh Imam Gahazali. Satu mud ialah 675 gram. ”Aku gemar menelaah kitab-kitab tasawuf. Ketika itu aku juga menguji nafsuku dengan meniru ibadah kaum salaf yang diceritakan dalam kitab-kitab salaf tersebut,” katanya.
Habib Neon wafat pada 30 Jumadil Awwal 1389 H / 22 Juni 1969 M dalam usia 71 tahun, dan jenazahnya dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Pegirikan, Surabaya, di samping makam paman dan mertuanya, Habib Mustafa Alaydrus, sesuai dengan wasiatnya. Setelah ia wafat, aktivitas dakwahnya dilanjutkan oleh putranya yang ketiga, Habib Syaikh bin Muhammad Alaydrus dengan membuka Majelis Burdah di Ketapang Kecil, Surabaya. Haul Habib Neon diselenggarakan setiap hari Kamis pada akhir bulan Jumadil Awal.
——————————————————————————————-
Pewaris Rahasia Imam Ali Zainal Abidin
Al-Habib Muhammad bin Husein al-Aydrus lahir di kota Tarim Hadramaut. Kewalian dan sir beliau tidak begitu tampak di kalangan orang awam. Namun di kalangan kaum ‘arifin billah derajat dan karomah beliau sudah bukan hal yang asing lagi, karena memang beliau sendiri lebih sering bermuamalah dan berinteraksi dengan mereka.
Sejak kecil habib Muhammad dididik dan diasuh secara langsung oleh ayah beliau sendiri al-’Arifbillah Habib Husein bin Zainal Abidin al-Aydrus. Setelah usianya dianggap cukup matang oleh ayahnya, beliau al-Habib Muhammad dengan keyakinan yang kuat kepada Allah SWT merantau ke Singapura.
أَََلَمْ َتكُنْ أَرْضُ اللهِ وَاسِعَةً فتَََهَاجَرُوْا فِيْهَا
Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu? (Q.S an-Nisa’:97)
Setelah merantau ke Singapura, beliau pindah ke Palembang, Sumatera Selatan. Di kota ini beliau menikah dan dikaruniai seorang putri. Dari Palembang, beliau melanjutkan perantauannya ke Pekalongan, Jawa Tengah, sebuah kota yang menjadi saksi bisu pertemuan beliau untuk pertama kalinya dengan al-Imam Quthb al-Habib Abu Bakar bin Muhammad as-Seggaf, Gresik. Di Pekalongan jugalah beliau seringkali mendampingi Habib Ahmad bin Tholib al-Atthos.
Dari Pekalongan beliau pidah ke Surabaya tempat Habib Musthafa al-Aydrus yang tidak lain adalah pamannya tinggal. Seorang penyair, al-Hariri pernah mengatakan:
وَحُبِّ البِلَادَ فَأَيُّهَا أَرْضَاكَ فَاخْتَرْهُ وَطَنْ
Cintailah negeri-negeri mana saja yang menyenangkan bagimu dan jadikanlah (negeri itu) tempat tinggalmu
Akhirnya beliau memutuskan untuk tinggal bersama pamannya di Surabaya, yang waktu itu terkenal di kalangan masyarakat Hadramaut sebagai tempat berkumpulnya para auliaillah. Di antaranya adalah Habib Muhammad bin Ahmad al-Muhdor, Habib Muhammad bin Idrus al-Habsyi, Habib Abu Bakar bin Umar bin Yahya dan masih banyak lagi para habaib yang mengharumkan nama kota Surabaya waktu itu. Selama menetap di Surabaya pun Habib Muhammad al-Aydrus masih suka berziarah, terutama ke kota Tuban dan Kudus selama 1-2 bulan.
Dikatakan bahwa para sayyid dari keluarga Zainal Abidin (keluarga ayah Habib Muhammad) adalah para sayyid dari Bani ‘Alawy yang terpilih dan terbaik karena mereka mewarisi asrar (rahasia-rahasia). Mulai dari ayah, kakek sampai kakek-kakek buyut beliau tampak jelas bahwa mereka mempunyai maqam di sisi Allah SWT. Mereka adalah pakar-pakar ilmu tashawuf dan adab yang telah menyelami ilmu ma’rifatullah, sehingga patut bagi kita untuk menjadikan beliau-beliau sebagai figur teladan.
Diriwayatkan dari sebuah kitab manaqib keluarga al-Habib Zainal Abidin mempunyai beberapa karangan yang kandungan isinya mampu memenuhi 10 gudang kitab-kitab ilmu ma’qul/manqul sekaligus ilmu-ilmu furu’ (cabang) maupun ushul (inti) yang ditulis berdasarkan dalil-dalil jelas yang hasilnya dapat dipertanggungjawabkan sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh para pakar dan ahli (para ashlafuna ash-sholihin).
Habib Muhammad al-Aydrus adalah tipe orang yang pendiam, sedikit makan dan tidur. Setiap orang yang berziarah kepada beliau pasti merasa nyaman dan senang karena memandang wajah beliau yang ceria dengan pancaran nur (cahaya). Setiap waktu beliau gunakan untuk selalu berdzikir dan bersholawat kepada datuk beliau Rasulullah SAW. Beliau juga gemar memenuhi undangan kaum fakir miskin. Setiap pembicaraan yang keluar dari mulut beliau selalu bernilai kebenaran-kebenaran sekalipun pahit akibatnya. Tak seorangpun dari kaum muslimin yang beliau khianati, apalagi dianiaya.
Setiap hari jam 10 pagi hingga dzuhur beliau selalu menyempatkan untuk openhouse menjamu para tamu yang datang dari segala penjuru kota, bahkan ada sebagian dari mancanegara. Sedangkan waktu antara maghrib sampai isya’ beliau pergunakan untuk menelaah kitab-kitab yang menceritakan perjalanan kaum salaf. Setiap malam Jum’at beliau mengadakan pembacaan Burdah bersama para jamaahnya.
Beliau al-Habib Muhammad al-Aydrus adalah pewaris karateristik Imam Ali Zainal Abidin yang haliyah-nya agung dan sangat mulia. Beliau juga memiliki maqam tinggi yang jarang diwariskan kepada generasi-generasi penerusnya. Dalam hal ini al-Imam Abdullah bin Alwi al-Haddad telah menyifati mereka dalam untaian syairnya:
ثبتوا على قـدم النبى والصحب # والتـابعين لهم فسل وتتبع
ومضو على قصد السبيل الى العلى# قدما على قدم بجد أوزع
_Mereka tetap dalam jejak Nabi dan sahabat-sahabatnya
Juga para tabi’in. Maka tanyakan kepadanya dan ikutilah jejaknya_
_Mereka menelusuri jalan menuju kemulyaan dan ketinggian
Setapak demi setapak (mereka telusuri) dengan kegigihan dan kesungguhan_
Diantara mujahadah beliau r.a, selama 7 tahun berpuasa dan tidak berbuka kecuali hanya dengan 7 butir kurma. Pernah juga beliau selama 1 tahun tidak makan kecuali 5 mud saja. Beliau pernah berkata, “Di masa permulaan aku gemar menelaah kitab-kitab tasawuf. Aku juga senantiasa menguji nafsuku ini dengan meniru perjuangan mereka (kaum salaf) yang tersurat dalam kitab-kitab itu”.







Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi (Surabaya)



Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi lahir di kota Khola’ Rasyid, Hadramaut, pada tahun 1265 H. Ayah beliau, Al-Imam Al-‘Arifbillah Al-habib Idrus bin Muhammad Al-Habsyi telah dahulu datang ke Indonesia untuk berdakwah. Beliau wafat dan di makamkan di kota CIrebon. Sedangkan ibu beliau di asuh oleh pamannya, Al-Habib Sholeh bin Muhammad Al-Habsyi. Sejak itu beliau besar dalam didikan pamannya. Sang paman inilah yang membentuk jiwa dan kepribadian Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi.     Pada mudanya, Habib Muhammad bin Idrus Al-habsyi giat dalam menuntut ilmu. Walaupun usianya masih muda, beliau mampu dengan mudah menguasai dan memahaminya. Berbagai ilmu agama yang beliau dapatkan dari para ilama dan auliya’, diantaranya ilmu tafsir, hadis dan fikih. Para gurunya telah menyaksikan ketaqwaan dan kedudukan beliau sebagai seorang yang tak kenal lelah dalam mengamalkan ilmunya.   Salah seorang auliya’ Al-Imam Al-Qutub Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi (Shahib Maulid Simtudurrar) telah mengutarakan dalam surat-menyurat beliau : “Sesungguhnya orang-orang berpergian ke Indonesia untuk bekerja dan mencari harta keduniaan, akan tetapi, putra kami Habib Muhammad bin Idrus Al-habsyi bekerja untuk Allah, dia berdakwah untuk mencapai Ash-Shidiqiyyah Al-kubra.” (Tingkat tertinggi dikalangan Auliya).   Ketika beranjak remaja beliau pergi ke tanah suci untuk menunaikan obadah haji dan berziarah ke makam datuknya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam di Madinah. Disana beliau menetap beberapa waktu. Hal itu dipergunakan oleh beliau untuk menimba ilmu dari para ulama yang berada di Haramain (Mekkah dan Madinah), diantaranya kepada Al-Imam Al-habib Husein bin Muhammad Al-Habsy.   Sebagaimana para pendahulunya, beliau berdakwah dari satu daerah ke daerah yang lain. Dalam setiap kali perjalanannya itu, beliau tidak bermalam di sebuah tempat yang di singgahi kecuali di tempat tersebut terdapat Ahlul Bait Rasulullah Shallahu ‘alaihi Wassalam.
Habib Muhammad bin Idrus Al-habsyi di kenal memiliki akhlak serta budi pekerti yang luhur, beliau murah tangan dan kasih saying terhadap sesame. Hrta miliknya tidak segan-segan diberikan kepada siapapun yang membutuhkannya. Beliau adalah seorang tutur katanya lemah lembut serta penuh dengan hikmah dan selalu tersenyum bila bertemu dengan siapapun. Ahklak dan perangainya meneladani datuknya, Rasulullah shallahu ‘alaiyhi wassalam.     Beliau memelihara anak-anak yatim di rumahnya. Anak-anak yatim menganggap Habib Muhammad bin Idrus Al-habsyi adalah ayah mereka sendiri, di dalam memberikan pakaian, makanan, minuman dan tempat tidur. Apabila anak-anak yatim itu telah beranjak dewasabeliau yang mengurus perkawinan mereka dan memberikan segala sesuatu yang mereka butuhkan. Tidak mengherankan, jika beliau dianggap sebagai ayah dari anak-anak yatim tersebut.   Rumah beliau selalu terbuka bagi para tetamu yang datang. Tidak sedikit para tamu tersebut yang menginap di rumah beliau, dan beliau sendirilah yang menyiapkan dan melayani kebutuhan para tamunya itu. Setiap tamu yang dating ke tempat beliau, baik dalam maupun luar kota selalu disambut dengan ramah dan sendang hati, bahkan apabila tamu yang datang orang yang tidak mampu, maka diberikan kepadanya ongkos untuk pulang dengan disertai hadiah utnuk anak dan istrinya. Hal ini yang menjadikan Habib Muhammad bin Idrus Al-habsyi begitu disegani dan dicintai masyarakat luas. Beliau memiliki kebiasaan mendamaikan dua belah pihak yang bertengkar dan berselisih faham. Meskipun masalah itu besar dan sulit, tapi dapat beliau selesaikan dengan baik. Sebagian amal jariyah beliau, diantaranya adalah, pembangunan masjid di Purwakarta, pembangunan Masjid Ar-Raudhah di kota Jombang, dan lain-lainnya. Beliau sebagai perintis pertama pengadaan haul para auliya’ dan kaum shalihin baik yang masih hidup ataupun yang sudah meninggal. Untuk pertama kalinya, beliau mengadakan haul guru beliau Al-Imam Al-hHabib Muhammad bin Thohir Al-Haddad, yang makamnya berada di kota Tegal. Beliau senantiasa berziarah ke tempat para auliya’ dan shalihin, baik yang masih hidup ataupun yang sudah meninggal yang di ikuti oleh khalaya ramai.   Semasa hidurpnya, beliau selalu taat dan takwa kepada Allah dan Rasul-Nya, serta senantiasa menladani para shalaf bani alawi yang merupakan leluhurnya. Beliau selalu memberikan maanfaat kepada para hamba Allah, dengan memanfaakan waktu, umur, serta membelanjakan hartanya di jalan Allah hingga akhir hayatnya.   Habib Muhammad bin Idrus Al-habsyi wafat pada pertengahan malam, hari rabu, 12 Rabiul Tsani 1337 H, di Kota Surabaya. Jasad beliau di makamkan dalam Qubbha di pemakaman Al-Habib Hasan Al-Habsyi di kawasan Masjdi Ampel Surabaya, pada hari Rabu waktu Ashar. Bertindak sebagai imam dalam shalat jenazah beliau adalah, Al-habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdhorm, yang merupakan menantu, murid sekaligus sahabat beliau.      

Al-Habib Muhammad bin Idrus Alhabsyi
Ayah bagi Fakir Miskin dan Anak Yatim
Dia peduli pada nasib fakir miskin dan anak yatim. Itu sebabnya ia dijuluki sebagai ayah anak yatim dan fakir miskin.
Sebagian kaum muslimin di Jawa Timur, khususnya di Surabaya, tentu mengenal Habib Muhammad bin Idrus Alhabsyi, yang mukim di Surabaya pada pertengahan abad ke-20 silam. Ia adalah seorang habib dan ulama besar, yang wafat di Surabaya pada malam Rabu, 12 Rabi’ul Akhir 1337 H /1917 M. Jenazahnya dimakamkan di Pemakaman Ampel Gubah, Kompleks Masjid Ampel, Surabaya.
Habib Muhammad bin Idrus Alhabsyi lebih dikenal sebagai ulama yang mencintai fakir miskin dan anak yatim. Itu sebabnya kaum muslimin menjulukinya sebagai “bapak kaum fakir miskin dan anak yatim.” Semasa hidupnya ia rajin berdakwah ke beberapa daerah. Dalam perjalanan dakwahnya, ia tak pernah menginap di hotel melainkan bermalam di rumah salah seorang habib.
Hampir setiap hari banyak tamu yang bertandang ke rumahnya, sebagian dari mereka datang dari luar kota. Ia selalu menyambut mereka dengan senang hati dan ramah. Jika tamunya tidak mampu, ia selalu mempersilakannya menginap di rumahnya, bahkan memberinya ongkos pulang disertai beberapa hadiah untuk keluarganya.
Ia juga memelihara sejumlah anak yatim yang ia perlakukan seperti halnya anak sendiri. Itu sebabnya mereka menganggap Habib Muhammad sebagai ayah kandung mereka sendiri. Tidak hanya memberi mereka tempat tidur, pakaian dan makanan, setelah dewasa pun mereka dinikahkan.
Habib Muhammad bin Idrus Alhabsyi lahir di kota Khala’ Rasyid, Hadramaut, Yaman Selatan, pada 1265 H atau 1845 M. Sejak kecil ia diasuh oleh pamannya, Habib Shaleh bin Muhammad Al-Habsyi. Ayahandanya, Habib Idrus bin Muhammad Alhabsyi, berdakwah ke Indonesia dan wafat pada 1919 M di Jatiwangi, Majalengka. Sedangkan ibunya, Syaikhah Sulumah binti Salim bin Sa’ad bin Smeer.
Seperti hanya para ulama yang lain, di masa mudanya Habib Muhammad juga rajin menuntut ilmu agama hingga sangat memahami dan menguasainya. Beberapa ilmu agama yang ia kuasai, antara lain, tafsir, hadits dan fiqih. Menurut Habib Ali bin Muhammad Alhabsyi, seorang ulama terkemuka, “Sesungguhnya orang-orang Hadramaut pergi ke Indonesia untuk bekerja dan
mencari harta, tetapi putra kami Muhammad bin Idrus Al-Habsyi bekerja untuk dakwah Islamiyyah dalam rangka mencapai ash-shidqiyyah al-kubra, maqam tertinggi di kalangan para waliyullah.”
Ketika menunaikan ibadah haji ke Makkah dan berziarah ke makam Rasulullah SAW di Madinah, ia sekalian menuntut ilmu kepada beberapa ulama besar di Al-Haramain alias dua kota suci tersebut. Salah seorang di antara para ulama besar yang menjadi gurunya adalah Habib Husain bin Muhammad Al-Habsyi.
Banyak kalangan mengenal Habib Muhammad sebagai ulama yang berakhlak mulia, dan sangat dermawan. Ia begitu ramah dan penuh kasih sayang, sehingga siapa pun yang sempat duduk di sampingnya merasa dirinyalah yang paling dicintai. Ia selalu tersenyum, tutur katanya lemah lembut. Itu semua tiada lain karena ia berusaha meneladani akhlaq mulia Rasulullah SAW.
Tak heran jika masyarakat di sekitar rumahnya, bahkan juga hampir di seluruh Surabaya, sangat mencintai, hormat dan segan kepadanya. Ia juga dikenal sebagai juru damai. Setiap kali timbul perbedaan pendapat, konflik, pertikaian di antara dua orang atau dua fihak, ia selalu tampil mencari jalan keluar dan mendamaikannya. Sesulit dan sebesar apa pun ia selalu dapat menyelesaikannya.
Sebagai dermawan, ia juga dikenal gemar membangun tampat ibadah. Ia, misalnya, banyak membantu pembangunan beberapa masjid di Purwakarta (Jawa Tengah) dan Jombang (Jawa Timur). Dialah pula yang pertama kali merintis penyelenggaraan haul para waliyullah dan shalihin. Untuk pertama kalinya, ia menggelar haul Habib Muhammad bin Thahir Al-Haddad di Tegal, Jawa Tengah. Ia juga merintis kebiasaan berziarah ke makam para awliya dan shalihin.
Menjelang wafatnya, ia menyampaikan wasiat, ”Aku wasiatkan kepada kalian agar selalu ingat kepada Allah SWT. Semoga Allah SWT menganugerahkan keberkahan kepada kalian dalam menegakkan agama terhadap istri, anak dan para pembantu rumah tanggamu. Hati-hatilah, jangan menganggap remeh masalah ini, karena seseorang kadang-kadang mendapat musibah dan gangguan disebabkan oleh orang-orang di bawah tanggungannya, yaitu isteri, anak, dan pembantu. Sebab, dia adalah pemegang kendali rumah tangga.”

Al-Habib Umar Al-Muhdhor

Al-Habib Umar Al-Muhdhor
 
Beliau adalah anak lelaki Syeikh Abdurrahman As-Seggaf. Beliau seorang wali besar yang mempunyai karamah luar biasa. Karamahnya banyak diceritakan orang.
Sebahagian dari karamah beliau ialah semua harta bendanya dibiarkan begitu saja tanpa dijaga sedikitpun. Anehnya siapa saja yang berani mengganggunya pasti terkena bencana seketika itu juga. Sampaipun jika ada seekor binatang yang berani mengganggu tanamannya tanpa pengetahuan beliau, binatang itu akan mati seketika itu juga.
Diriwayatkan ada seekor burung gagak yang makan pohon kurmanya. Burung itu segera dihalaukannya. Tidak lama kemudian, burung gagak itu pun kembali makan pohon kurma beliau. Dengan izin Allah burung gagak itu tersungkur mati seketika itu juga.
Sebahagian pelayan beliau ada yang mengadukan tentang banyaknya kijang yang menyerang kebun beliau dan tetangga beliau banyak yang mentertawakannya. Beliau menyuruh pelayannya berseru untuk menyuruh semua kijang yang berada di kebun beliau segera meninggalkan tempat menuju ke kebun tetangga beliau yang mentertawakannya. Dengan izin Allah semua kijang itu menyingkir pindah ke kebun tetangga yang mentertawakan beliau. Terkecuali hanya seekor kijang saja yang tidak mahu berpindah. Dengan mudah kijang tersebut dipegang oleh beliau dan disembelih.
Salah seorang pelayan beliau bercerita: “Ayah saudaraku mempunyai anak perempuan yang cantik. Setiap kali dipinang orang anak perempuan itu selalu menolak pinangannya. Aku mengadukan hal itu kepada Sayid Umar Al-Muhdhor. Jawab beliau: “Anak perempuan ayah saudaramu itu tidak akan berkahwin selain dengan engkau, dan engkau akan menapatkan seorang anak lelaki daripadanya”. Aku rasa apa yang dikatakan oleh Sayid Umar Al-Muhdhor itu tidak mungkin akan terjadi pada diriku yang sefakir ini. Dengan izin Allah aku pun dipinang oleh anak perempuan ayah saudaraku itu. Aku kahwin dengan anak perempuan ayah saudaraku dan mendapatkan seorang anak lelaki seperti yang dikatakan oleh Sayid Umar Al-Muhdhor”.
Seorang datang mengadu pada beliau: “Kalung isteriku dicuri”. Sayid Umar Al-Muhdhor berkata: “Katakan pada orang banyak di sekitarmu, siapa yang merasa mengambil kalung itu hendaknya segera dikembalikan, kalau tidak dalam waktu tiga hari ia akan mati dan kalung tersebut akan kamu temui pada baju pencuri itu”. Perintah beliau dijalankan oleh lelaki tersebut. Tapi tidak seorangpun yang mengaku perbuatannya. Setelah tiga hari ia dapatkan orang yang mencuri kalung isterinya itu mati. Waktu diperiksa ia dapatkan kalung isterinya itu berada dalam pakaian si mayat sebagaimana yang dikatakan oleh Sayid Umar.
Pernah beliau memberi kepada kawannya segantang kurma yang ditempati dalam keranjang. Setiap hari orang itu mengambilnya sekadar untuk memberi makan keluarganya. Segantang kurma itu diberi berkat oleh Allah sehingga dapat dimakan selama beberapa bulan. Melihat kejadian itu si isteri tidak tahan untuk tidak menimbangnya. Waktu ditimbang ternyata hanya segantang saja seperti yang diberikan oleh Sayid Umar Al-Mudhor. Anehnya setelah ditimbang kurma itu hanya cukup untuk beberapa hari saja. Waktu keluarga itu mengadukan kejadian itu pada Sayid Umar beliau hanya menjawab: “Jika kamu tidak timbang kurma itu, pasti akan cukup sampai setahun”.
Doa beliau sangat mujarab, banyak orang yang datang pada beliau untuk mohon doa. Ada seorang wanita yang menderita sakit kepala yang berpanjangan. Banyak doktor dan tabib yang dimintakan pertolongannya. Namun tidak satupun yang berhasil. Si wanita itu menyuruh seorang untuk memberitahukan penderitaannya itu kepada Sayid Umar Al-Muhdhor. Beliau berkunjung ke rumah wanita yang sakit kepala itu dan mendoakan baginya agar diberi sembuh. Dengan izin Allah wanita itu segera sembuh dari penyakitnya.
Ada seorang lelaki yang mengadu pada beliau bahawa ia telah kehilangan wang yang berada di dalam pundi-pundinya. Beliau berdoa kepada Allah mohon agar wang lelaki itu dikembalikan. Dengan izin Allah pundi-pundi itu dibawa kembali oleh seekor tikus yang menggondolnya.
Karamah beliau banyak sekali sehingga sukar untuk disebutkan semua. Beliau wafat di kota Tarim pada tahun 833 H dalam keadaan bersujud waktu bersolat Zohor. Beliau dimakamkan di perkuburan Zanbal.

Biografi Imam Muhammad Al-Bagir

( والباقر الساجد خير مهذب          العالم الرباني المتورع )
Kunyah beliau adalah Abu Ja’far, beliau disebut Al Bagir karena kejeniusannya yang tidak bisa dibandingkan dengan siapapun, kecerdasannya meliputi ilmu Dhohir dan Batin, beliau memahami hakikat hikmah-hikmah, tidak ada yang samar baginya kecuali yang dirahasiakan dari pandangan dan suara hati yang rusak, beliau adalah harta karun yang berisi pengetahuan.
Imam Al Jalil bin Madiniy meriwayatkan kisah Sayyidina Jabir bin Abdillah Radhiyallahu’anhum, yang mengatakan pada Imam Muhammad Al Bagir pada masa kecilnya: ” Rasulullah SAW menitip salam untukmu “, Sayyidaina Jabir bercerita: “ Disaat aku sedang duduk disamping Rasulullah SAW. Bersama Sayyidina Husein yang sedang bermain dipangkuan beliau. Tiba-tiba Rasulullah berkata padaku: Wahai Jabir dia akan memiliki putra bernama Ali, setelah kiamat nanti akan ada suara berseru “ Wahai Pemimpin Ahli Ibadah Bangunlah “, maka putranyalah yang akan berdiri, kemudian dia juga akan memiliki putra bernama Muhammad, kalau nanti kau bertemu dengannya sampaikan salamku untuknya “.
Dialah Imam Muhammad Al Bagir keturunan Rasulullah SAW dari ayah maupun ibunya, banyak dari kalangan ulama’ yang mengambil ilmu serta pengetahuan dari beliau hingga tersebar keseluruh penjuru negri.
Ibu beliau adalah Sayyidatuna Fatimah binti Hasan bin Ali bin Abi Tholib Ridhwanullah ‘alaihim. Beliau dilahirkan di kota Madinah pada hari jum’at tanggal 2 Shofar tahun 57 Hijriyah tiga tahun sebelum terbunuhnya Sayyidina Husein Radhiyallahu’anhu.
Dan beliau meninggal di kota Madinah pada sekitar tahun 114,117,118 Hijriyah, Beliau dimakamkan di Baqi’ di sisi ayahnya di Kubah Al-Abbas, dan berwasiat agar dikafani menggunakan gamisnya (pakaiannya) yang biasa digunakan untuk sholat.
Putra-putra beliau adalah: Sayyidina Ja’far dan Abdullah, dan ibu mereka berdua adalah Sayyidatuna Farwah binti Qosim bin Muhammad bin Abu Bakar Asshiddiq. Putra beliau juga adalah: Sayyidina Ibrahim dan Ali, Sayyidatuna Zainab dan Ummu Salamah.
Beberapa perkataan beliau: “ Ketika Kesombongan masuk  pada hati seseorang, pasti berkurang sebagian akalnya, seukuran kesombongannya atau bahkan lebih banyak “.
Beliau juga mengatakan: “ Kecemasan (rasa bimbang yang membuat hati kacau) bisa merasuki orang mu’min dan yang tidak mu’min, akan tetapi kecemasan tersebut tidak akan bisa merasuki, mengusik orang yang selalu mengingat Allah SWT (ahli dzikir) “.
Beliau mengatakan: “ Tidak ada ibadah yang lebih baik dari pada menahan nafsunya perut dan kemaluan “.
Beliau juga mengatakan: “ Saudara terburuk adalah mereka yang ada pada saat kau senang (memiliki harta) dan tidak peduli disaat kau susah (faqir) “.
Beliau mengatakan: “ Ketahui kasih sayang di hati saudaramu dengan hartanya dihatimu “.
Beliau selalu mengucapkan ketika tertawa: “ (اللهم لاتمقتقني), Ya Allah jangan kau benci aku “.
Dan beliau sangat mencintai Sayyidana Abu Bakar dan Umar Radhiyallahu’anhumaa.
Beliau juga mengatakan: “ Apalah dunia itu, Mau jadi apa kamu, Dunia hanyalah pakaian yang kau pakai, atau kendaraan yang kau kendarai, atau wanita yang kau nikahi “.
Beliau bercerita: “ Aku punya seorang teman yang mulia di mataku, dan yang membuatnya mulia di mataku karena dunia kecil (sepele) di matanya, dia pernah berpesan pada putranya: “Wahai putraku, jangan sekali-kali kau Malas atau Bosan, karena keduanya kunci kesusahan (kejelekan), jika kamu malas kamu tidak akan melaksanakan kebenaran, Jika kamu bosan kamu tidak akan sabar dengan kebenaran “.

Beliau memberitahu: “ Jika kamu ingin nikmatmu dijaga maka perbanyaklah membaca Alhamdulillah dan bersyukur atas nikmatmu pada Allah SWT, Jika rezekimu tidak lancar maka perbanyaklah membaca Istighfar, Jika ada yang membuatmu sedih maka bacalah Laa Haula Walaa Quwwata Illa Billah, dan Jika kamu takut suatu kelompok jahat bacalah Hasbunallah Wani’mal Wakiil, Jika ada yang membuatmu kagum bacalah Masyaallah Laa Haula Walaa Quwwata Illa Billah, dan Jika kamu tertipu katakan pada dirimu aku serahkan semuanya pada Allah SWT, sesungguhnya Allah maha melihat dan maha mengetahui atas hambanya, dan Ketika dirimu sumpek bacalah Laa Ilaaha Illa Anta Subhaanaka Inniy Kuntu Minadzzoolimin “.

Biografi Imam Ali Zainal Abidin

( مثل الإمام علي زين العابدين        القانت المتبتل المتخشع )
Orang yang selalu tegak melaksanakan ibadah untuk Allah SWT, orang yang meninggalkan semua selain penciptanya, yang enggan dengan selain untuk Allah SWT, yang selalu menghadap pada tuhannya. Orang yang memiliki hati dan tubuh tunduk untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan selalu merasa takut akan salah dan tidak mendapat ridhonya. Beliaulah Imam sebaik-baiknya hamba Allah SWT Sayyidina Ali putra cucuk kesayang Rasulullah SAW Imam Husein putra Amirul mukminin Imam Ali bin Abi Tholib Radhiyallahu’anhum Ajma’iin. Beliau memiliki Kunyah Abal Husein atau Abal Hasan, dan diberi Laqob Ahli Sujud (السجاد).
Beliau dilahirkan di kota Madinah pada tahun 33 atau 38 Hijriyah, dan meninggal disana pula pada tanggal 18 Muharrom tahun 94 Hijriyah, di makamkan di Baqi’ pada usia antara 54-58 tahun, tepatnya di Kubah Al Abbas disisi pamannya Sayyidina Hasan Radhiyallahu’anhumaa. Beliau adalah seorang tabi’in yang mulia, seorang imam besar, yang meriwayatkan Hadits dari ayahnya, dan dari pamannya Sayyidina Hasan serta Sayyidina Jabir, Ibnu Abbas, Al Musawwir bin Makhromah, Abu Hurairoh, Sayyidatuna Shofia, Aisyah, Ummu Salamah dan dari semua Ummul Mukminin Radhiyallah Ta’aala ‘Anil Jamii’. Beliaulah yang menggantikan/mengikuti ayahnya Radhiyallahu’anhuma, baik dari segi Zuhud dan Ibadahnya, bahkan bisa dikatakan semua kemuliyaan ada pada diri beliau Radhiyallahu’anhu.
Imam Yahya Al Anshori mengatakan: “ Dia adalah keturuan Bani Hasyim terbaik yang pernah aku lihat “.
Imam Az-Zuhri mengatakan: “ Aku tidak pernah menjumpai seseorang di kota Madinah yang lebih baik dari padanya “.
Imam Hammad bin Zaid mengatakan: “ Dia adalah paling baiknya keturunan Hasyimiy yang pernah ditinggalkan Madinah “.
Sayyidina Abu Bakar bin Syaibah mengatakan: “ Paling Shohihnya Sanad adalah yang diriwayatkan dari Az-Zuhri dari Ali bin Husein dari ayahnya Sayyidina Ali bin Abi Tholib “.
Beliau dilahirkan dihari yang sama dengan Imam Zuhri, Rasulullah SAW pernah bersabda tentang beliau jauh sebelum kelahirannya (yang akan dijelaskan pada Biografi Imam Muhammad Al Bagir).
Dalam sehari-semalam beliau sholat sebanyak seribu rokaat, dan ketika beliau ingin berwudhu’ wajahnya terlihat pucat, ketika ditanya beliau menjawab “ Apakah kau tidak tahu aku akan berada dihadapan siapa “. Dan beliau tidak suka ada orang yang membantunya untuk bersuci (wudhu’) dan beliau selalu menjaga sampai tidurnya.
Beliau tidak pernah meninggalkan Qiyamullail walau dalam perjalanan, dan beliau adalah orang yang menghormati dan memuji Sayyidina Abu Bakar, Umar dan Utsman Radhiyallahu’anhum.
Ketika beliau melaksanakan ibadah haji, setiap kali membaca kalimah “Labbaikallahumma Labbaik” pasti beliau jatuh pingsan, orang-orang mendatangi hawatir dan bertanya pada beliau akan apa yang terjadi, beliau menjawab “ Aku takut ketika aku mengatakan Labbaik[1], Allah SWT menjawabnya dengan Laa Labbaik Walaa Sa’daik[2] “.
Salah satu cerita akan kesabaran beliau, suatu saat ketika beliau keluar dari masjid beliau bertemu seseorang yang sangat membenci dan mencaci makinya, orang-orang disekitar beliau geram dan ingin menghampirinya namun Imam Ali menghentikan mereka, setelah orang tersebut kehabisan kata-kata beliau menghampirinya dan berkata: “ Kau adalah orang yang jujur yang pernah aku temui, apa yang kau katakan semuanya benar, bahkan kekurangan dan ‘aibku yang belum kau ketahui masih banyak, terima kasih sudah mau mengingatkan diriku “, lalu beliau mengambil kantong yang berisi seribu dirham dan memberikan padanya sebagai rasa terima kasih, spontan orang tadi mengatakan: “ Sekarang aku ingin kalian bersaksi, aku benar-benar yakin bahwasannya orang ini adalah keturunan Rasulullah SAW  “.
Pada sebuah kisah yang Masyhur ketika penyair Farazdaq memuji Imam Ali Zainal Abidin dihadapan Raja Hisyam, beliau memberi Farazdaq 12 ribu Dirham, spontan farazdaq mengatakan: “ Aku memuji mu karena Allah bukan mengharap pemberian “, Imam Ali menjawab: “ Kita Ahlil Bait, tidak pernah mengambil sesuatu yang telah kita berikan “.
Beliau tinggal bersama kakeknya Sayyidina Ali bin Abi Tholib selama dua tahun, dan bersama pamannya Sayyidina Hasan selama sepuluh tahun, dan bersama ayahnya Sayyidina Husein selama sebelas tahun Ridhwanullah’alaihim Ajm’iin.
Ketika meninggal bahu beliau terlihat bengkak, karena beliau selama ini menanggung seratus Ahlul Bait, dan beliau memikul sendiri karung makanan ketika malam dan membagikannya kepada kaum Faqir kota Madinah. Beliau mengatakan: “ Sesungguhnya Shodaqoh Sirr bisa meredam murka tuhan “.
Imam Muhammad bin Ishaq mengatakan: “ Banyak orang Madinah mendapatkan penghidupan dan mereka tidak tahu dari mana asalnya (makanan-makanan), ketika Imam Ali bin Husein meninggal mereka kehilangan (makanan yang biasanya tiba-tiba tersedia di depan rumah mereka) “.
Zaid bin Aslam duduk bersama beliau dan berkata: “ Ilmu harus diikuti kemanapun, dan seseorang seharusnya duduk bersama siapa yang bisa memberi manfaat pada agamanya “.
Kalau beliau menghutangi tidak pernah menagihnya, dan kalau meminjamkan pakaian beliau tidak pernah memintanya, kalau sudah berjanji beliau tidak bisa makan dan minum sampai menepatinya, beliau sering membantu hajat orang dengan hartanya dan tidak pernah memukul/menyakiti hewan kendaraannya.
Beliau meninggalkan sebelas putra dan empat putri, semuanya mewarisi ilmu, zuhud dan ketekunan dalam ibadah. Manaqib dan kisah keutamaan beliau tak terhitung jumlahnya dan sudah banyak tersebar, maka cukup kami menyampaikan sekelumit tentang beliau Radhiyallau’anhu.



[1] Artinya: Aku memenuhi panggilanmu”
[2] Artinya: Tidak ada panggilan untukmu, dan tidak ada kebahagiaan untukmu”

Biografi Imam Ja'far Ash-Shodiq

( والصادق الصديق أستاذ الألى        وإمام أهل الحق غير مدافع )
Beliau adalah Imam Ja’far bin Muhammad bin Ali bin Husein bin Ali bin Abi Tholib karramallahu wajhah, dan beliau lebih dikenal dengan laqob[1]Asshodiq” serta kunyah Abu Abdillah, sebagian mengatakan kunyah beliau adalah Abu Ismail. Ibu beliau adalah sayyidatuna Farwah binti Qosim bin Muhammad bin Abu Bakar Asshiddiq, sedangkan ibu dari ibu beliau adalah Sayyidatuna Asma’ binti Abdurrahman bin Abu Bakar Asshiddiq. Karena hal tersebut beliau radhiyallahu’anhu pernah mengatakan: “ jangan pernah kau caci Abu Bakar, karena dia telah melahirkanku dua kali “.
Beliau dilahirkan di kota Madinah pada hari senin 18 Robi’ul Awwal tahun 80[2] Hijriyah, dan meninggal di kota Madinah pada malam senin pertengahan Rojab tahun 148 Hijriyah berada di pemakaman Baqi’ di kubah Al’Abbas, disamping makam ayah, kakek serta paman beliau sayyidana Hasan bin Ali bin Abi Tholib radhiyallahu’anhum.
Beliau memiliki lima putra: Sayyidina Muhammad, Ismail, Abdullah, Musa dan Ali ‘Uraidhi kakek dari pada keluarga Al-Ba’alawiy.
( أستاذ الألى ) bait syair menyebut beliau guru yang mulia karena banyaknya para imam serta ulama tersohor yang mengambil ilmu dari Imam Ja’far Asshodiq, seperti: Imam Yahya bin Sa’id, Ibnu Juraij, Malik bin Anas[3], Sufyan Atsauri, Ibnu ‘uyainah, Abi Hanifah[4], Syu’bah dan Ayyub. Serta banyak pula yang menukil dari beliau ilmu-ilmu, ilmu ma’arif, hikmah-hikmah, sejarah, petunjuk dan jalan hidayah orang-orang sholeh yang terus tersebar ilmu beliau kebanyak penjuru negara.
Sampai-sampai Sayyidina Umar bin Miqdam mengatakan: “ Ketika aku melihat Ja’far bin Muhammad, aku tahu kalau dia keturunan Rasulullah SAW. “.
            Beberapa kutipan dari Kalam beliau Radhiyallahu’anhu: لازاد أفضل من التقوى ولاشيئ أحسن من الصمت ولاعدوى أضر من الجهل ولاداء أدوى من الكذب
“ Tidak ada bekal yang lebih baik dari takwa, tidak ada sesuatu yang lebih baik dari diam, tidak musuh yang lebih bahaya dari kebodohan dan tidak ada penyakit yang lebih bahaya dari kebohongan “.
Beliau juga mengatakan: “ Jika kamu mendengar perkataan seorang muslim, artikan dengan penafsiran terbaikmu, jika kamu tidak bisa mengartikannya dengan baik, maka salahkan dirimu “.
Artinya, jangan berburuk sangka (Suudzon) ketika mendengar perkataan seseorang bisa jadi maksudnya benar, hanya saja dia salah mengucapkannya, jadi kita harus mengartikan dengan penafsiran yang baik.
Beliau mengatakan: “ Jika kau berbuat dosa lekaslah meminta ampunan (istighfar), karena dosa tersebut terikat pada leher seseorang dari sebelum dilahirkan “.
Artinya, setiap insan pasti pernah berbuat salah, karena hal tersebut juga bagian dari ketentuan Allah SWT. Namun kita tetap harus meminta ampunan dan menyesalinya, karena itulah manusia dikarunia akal.



[1] Laqob dan Kunyah bisa diartikan Julukan.
[2] Sebagian ulama’ mengatakan beliau lahir pada tahun 83 hijriyah.
[3] Imam Malik (pendiri Madzhab Malikiyah).
[4] Pendiri Madzhab Hanafiyah.